PESAN MORAL
CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI
Oleh: May Padhi
Cerita Robohnya Surau
Kami ini, memiliki cerita yang sederhana,
unik dan menarik. Dibalik kesederhanaannya itu tersimpan makna dan kritik yang
mendalam atas kehidupan di jaman yang modern ini. Cerpen ini membuat kita
berpikir bagaimana seorang yang alim bisa masuk neraka. Judul cerpen ini
hanyalah simbolik, sebenarnya bukan bangunan fisik dari suraulah yang roboh
tetapi nilai-nilai agama yang oleh beberapa orang disalah gunakan. Ada sebagian
manusia yang beribadah bukan karena tulus menyembah-Nya tetapi mengharapkan
imbalan masuk surga semata sehingga mengabaikan urusan duniawi. Hal tersebut
digambarkan dalam diri H. Saleh.
Pengarang Haji Ali
Akbar Navis lahir di Padang, Sumatera
Barat, 17 November 1924. A.A. Navis di kalangan sastrawan digelari sebagai
”Kepala Pencemooh”, karena beliau adalah salah seorang tokoh yang ceplas
ceplos, apa adanya. Kritik sosial yang ditujukan untuk membangun
pribadi-pribadi untuk menjadi yang lebih baik lagi. Tidak heran jika cerpen
Robohnya Surau Kami ini berisi kritik tentang ketidak seimbangan antara duniawi
dan dunia akhirat.
A.A. Navis menyampaikan
kriktiknya ini dengan sederhana tetapi penuh makna. Hal tersebut terbukti
dengan adanya penggambaran tokoh H. Saleh yang lahir dari bualan seorang Ajo
Sidi. H. Saleh seorang tokoh yang rajin beribadah
tetapi pada akhirnya masuk neraka memiliki watak sombong terbukti dari
Haji Saleh
itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukkan ke
surge. Kedua tangannya ditopangkan ke pinggang sambil membusungkan dada dan
menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang msuk neraka,
bibirnya menyunggingkan senyum ejekan.
Dalam cerpen ini A.A.
Navis menggambarkan perilaku manusia yang hanya beribadat saja, tanpa mengurus
kehidupannya. Tidak sedikit manusia yang melakukan seperti apa yang digambarkan
melalui tokoh kakek dan tokoh H. Saleh. Kejadian seperti ini biasanya terjadi
dilingkungan yang religius seperti pesantren. A.A. Navis yang seorang haji
ingin mengingatkan bahwa dalam hidup kita harus menyeimbangkan antara urusan
duniawi dan urusan akhirat. Tidak heran jika ada ungkapan beribadatlah
seolah-olah engkau akan mati besok, dan bekerjalah seolah-olah engkau hidup
seribu tahun. Sepertinya hal inilah yang ingin diingatkan oleh A.A Navis
melalui cepennya.
A.A. Navis menggambarkan
dengan mudahnya suasana di akhirat dan bagaimana seorang manusia yang bisa
berdilaog dengan Tuhannya. Cerita yang seperti ini jarang dijumpai dalam
cerita-cerita lain.
‘O, o, ooo
anu tuhanku. Aku selalu membaca KitabMu.’
‘Lain?’
‘Sudah
kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalu ada yang aku lupa katakana, aku pun
bersyukur karena Engkaulah yang Mahatahu.’
‘Sungguh
tidak ada lagi yang kau kerjakan di dunia selain yang kau ceritakan tadi?’
Tidak hanya masalah beribadat di dunia saja yang digambarkan tetapi juga
bagaimana manusia melakukan protes kepada Tuhannya. Terkadang manusia memang
tidak mau menerima apa yang telah ditakdirkan pada dirinya. Hal ini yang coba
ingin digambarkkan bahwa sanya manusia memiliki sifat yang kurang ikhlas dalam
menerima. H. Saleh memimpin beberapa orang untuk melakukan protes kepada Tuhan.
Haji Saleh
yang menjadi Pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang
menggelegar dan berirama indah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang
Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat
beribadat, yang paling taat menyembahmu.
Melalui dialog Tuhan, A.A. Navis menjelaskan mengapa seseorang bisa masuk
ke neraka tanpa pandang bulu, bahkan seseorang yang telah bertitel haji dan
syekh juga bisa masuk neraka.
Kau lebih
suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak
membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau
miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, sehingga kerjamu
lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.
Membaca Robohnya Surau Kami
ini bisa menjadi refleksi bagaiman perilaku manusia yang seharunya. Cerpen yang
sederhana tetapi sarat akan makna. Melalui cerpen ini kita bisa mengambil
hikmah bahwa Tuhan tidak hanya menginginkan hambaNya hanya menyembahNya tetapi
juga menginginkan hambaNya untuk bisa menyeimbangkan antara urusan duniawi dan
urusan akhirat. Sangat sederhana pesan moral yang ingin disampaikan oleh A.A.
Navis. Secara keseluruhan cerpen yang berbau religi ini bagus untuk untuk
meningkatkan ketakwaan pembaca kepada Tuhannya, selain itu sangat jarang cerpen
yang menggunakan tokoh Tuhan. Selain dalam cerpen Robohnya Surau Kami hal
tersebut juga terdapat dalam cerpen “Langit Semakin Mendung ” karya
Kipanjikorsim.
Selain pesan moral utama yang
mengharukan kita menyeimbangkan antara urusan duniawi dan urusan dunia akhirat,
terselip makna-makna lain. A.A Navis menyelipkan pesan moral dalam setiap
tokoh-tokohnya. Pesan moral yang bisa kita ambil dari tokoh kakek adalah jangan
mudah temakan oleh omongan orang lain dan jangan mudah putus asa. Pesan moral
yang bisa kita ambil dari tokoh Ajo Sidi adalah janganlah menjadi seorang
pembual yang bisa merugikan orang lain.
Daftar Rujukan
Andromeda. 2012. Analisis Cerpen "Robohnya Surau Kami", (online) (http://galaxyairit.blogspot.com/2012/05/analisis-cerpen-robohnya-surau-kami.html,
diakses14 April 2013)
Sundiawan, A. 2008. Analisis
Cerpen Robohnya Surau Kami, (online) (http://awan965.wordpress.com/2008/12/20/analisis-cerpen-robohnya-surau-kami/,
diakses 14 April 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar