Selasa, 25 Februari 2014

Khusus Pelajar


Masalah yang dihadapi pelajar

Perningkatan kualitas ini tidak hanya didapat melalui ruang formal saja. Tapi juga bisa melalui pelatihan-pelatihan peningkatan kualitas guru. Dan diharapkan peningkatan kualitas guru ini dapat menghapus stigma akan penyakit guru dibawah ini.
Agar tidak ada lagi 11 penyakit yang rentan diderita guru:
1. Tipes
           : Tidak punya selera
2. Mual
           : mutu amat lemah
3. Kudis
          : Kurang disipiln
4. Asma
          : Asal masuk kelas
5. Kusta
          : Kurang Strategi
6. TBC
            : Tidak Bisa Computer
7. KRAM
       : Kuram Terampil
8. Asam Urat
: Asal Sampaikan materi urutan kurang akurat
9. Lesu
            : Lemah Sumber
10. Diare
         : Dikelas Anak-anak remehkan
11. Ginjal
       : Gajinya nihil jarang aktif dan terlambat

Jumat, 21 Februari 2014

Bacaan yang penuh manfaat :)


~SHALAT LIMA WAKTU~
(syair penyemangat shalat)

Bila Subuh Utuh ..
Pagi tumbuh, hati teduh ..
Pribadi tidak angkuh ..
Keluarga tidak keruh ..
maka damai akan berlabuh ...

Bila Dzuhur teratur ..
Diri pribadi jujur ..
Hati tidak kufur ..
Rasa selalu bersyukur ..
Amal tidak udzur ..
Keluarga selalu akur ..
Maka pribadipun menjadi makmur ...

Bila Ashar kelar ..
Jiwa jadi sabar ..
Raga jadi tegar ..
Senyum menyebar ..
dan rizki-pun lancar ...

Bila Maghrib tertib ..
Ngaji jadi wajib ..
Wirid jadi karib ..
Jauh dari aib ..
InsyaAllah syafaat tidak raib ...

Bila Isya' terjaga ..
Malam bercahaya ..
Rumah bagai istana ..
Hidup terasa di Surga ..
Bahagia & Sejahtera ...

*************************
Jagalah Shalat 5 waktu ...
Karena shalat itu WAJIB, from generation to generation..
Karena itu kewajiban & pengakuan kita sebagai hamba ALLAH semata ....

think about it, please ...
Apapun Profesinya, Shalat itu tetap wajib ....

Marilah kita berdoa, bermunajat kepada ALLAH..
Semoga ALLAH mengampuni kita, dan menghapuskan kita dari segala dosa yg telah lalu..

Ya ALLAH..
Ampunilah semua dosa-dosa kami, baik sengaja atau pun tidak, berkahilah kami, ramahtilah kami, berikanlah kami hidayah-MU agar kami senantiasa dekat kepada-MU hingga akhir hayat..

Aamiin ya Rabbal'alamin..


Sumber :
Forum Dakwah Islam

Rabu, 12 Februari 2014

Resensi cerpen

Sinopsis Cerpen Robohnya Surau Kami Oleh: Ali Akbar Navis
 Dalam cerpen ini menceritakan tentang seorang kakek yang menjadi sebagai garin, penjaga surau (takmir). Menjadi seorang penjaga surau dia tidak mendapatkan honor atau gaji apapun. Dia hidup mengandalkan dari sedekah, yang hanya sekali pada hari Jumat. Pekerjaan sambilannya yaitu menjadi pengasah pisau dan gunting. Apabila yang meminta tolong perempuan biasanya dia diberi sambal. Berbeda lagi, apabila yang meminta tolong itu laki-laki, ia diberikan rokok kadang juga uang sebagai imbalannya. Tidak sedikit juga yang hanya memberikan ucapan terima kasih dan senyuman. Suatu ketika, kakek terlihat murung, sedih, kesal dan bermuram durja. Ia duduk termenung di serambil surau dengan ditemani beberapa peralatan asahan dan pisau cukur tua berada disekitar kaki kakek. Ternyata ia baru saja bertemu dan berbicara dengan Ajo Sidi, si pembual atau ahli pembuat cerita. Cerita-ceritanya aneh, unik, yang membuat cerita dengan menganalogikan lawan bicara dengan sesuatu. Hari itu kakek yang dijadikan bualan ceritanya, yang pada intinya menjadi pameo atau semacam cerita yang menyindir pendengar. Ajo Sidi, si pembual itu menceritakan seseorang bernama Haji Shaleh, yang dulunya didunia selalu beribadah kepadaNya, taat menjalankan perintahNya dan selalu takwa kepadaNya. Namun, di akhirat Haji Shaleh, malah dimasukkan ke dalam neraka, bahkan ditempatkan pada keraknya neraka. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya, dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri. Segala kehidupannya lahir batin diserahkan kepadaNya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain. Bahkan dia tak pernah membunuh seekor lalat pun. Padahal dia hidup berkaum, bersaudara namun sedikitpun tak memperdulikannya. Dia selalu bersujud, memuji dan berdoa kepadaNya. Setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi, kakek hanya merenung dan memikirkannya Seolah ia merasakan apa yang dirasakan Haji Shaleh. Keesokan harinya, kakek mengakhiri hidupnya dengan menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur. Berita kematian kakek sudah tersebar ke seluruh kampung, semua warga kampung mengurus jenazah kakek. Semua warga mengantar kepergian jenazah kakek ke makam. Namun Ajo Sidi yang bisa dikatakan menjadi penyebab kematian kakek, malah tetap pergi bekerja. Dan sebelum pergi bekerja, Ajo Sidi berpesan kepada istrinya agar membelikan kain kafan untuk mengafani jenazah kakek. 1. Penokohan Tokoh yang muncul dalam cerpen ini ada tiga yakni: a. Tokoh Aku Tokoh ini sangat berperan dalam cerita pendek ini karena ‘tokoh aku’ berperan sebagai pencerita. Dengan penggunaan kata ‘aku’ sebagai orang pertama, tokoh ini berhasil membawa jalannya cerita dengan pandangan dan pemikiran si ‘tokoh aku’ tersebut. Dapat dibuktikan dari kutipan berikut: “Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi tidak membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itukah yang mendurjakan kakek ? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya pada kakek lagi: “Apa ceritanya, kek ?” Salah satu kutipan di atas merupakan contoh bahwa tokoh aku berperan besar dalam mengalirnya cerita dari tokoh-tokoh yang lain. Tokoh ini merupakan tokoh yang protagonis karena dia tidak menentang peristiwa apapun dan tidak menghadirkan konflik. Namun dia termasuk tokoh bulat karena terjadi perubahan psikologis dan emosional. Dibuktikan dengan: “Ya , tadi subuh Kakek kedpatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur.” “Astaga Ajo sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.”” Pernyataan yang ditulis tebal di atas merupakan salah satu ekspresi perkataan yang menggambarkan rasa kaget dan terjadi perubahan emosional dalam diri tokoh ini.” b. Kakek Tokoh kakek yang merupakan tokoh utama dalam cerpen ini digambarkan sebagai orang yang lemah imannya dan mudah tersinggung serta tidak tahan dengan perkataan negatif orang lain terhadapnya. Bisa dibuktikan karena dalam cerita ini dia dengan mudah dapat termakan oleh cerita Ajo Sidi dan malah tidak mempercayai keyakinan yang sudah dia tanamkan dalam dirinya sendiri. Seharusnya dengan komentar orang terhadap dirinya dia bisa menintrospeksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya. Kakek merupakan tokoh bulat karena terjadi banyak pergejolakan emosional dalam dirinya. Kutipan yang menggambarkan bahwa dia mementingkan dirinya sendiri: “Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak terpikirkan hidupku sendiri.” Kakek juga pribadi yang mudah meledak-ledak emosinya dan mudah depresi. Dapat dibuktikan dari kutipan: “Kemudian aku duduk di sampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek: “Pisau siapa, Kek?: “Ajo Sidi.” .“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam ini, menggorok tenggorokannya.” c. Ajo Sidi Tokoh ini bisa dibilang jarang dimunculkan, namun kehadirannya merupakan kunci dari timbulnya konflik yang terjadi dalam cerpen ini. “Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi pemeo akhirnya. Ada-ada saja orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya,” deskripsi tokoh Ajo Sidi diatas merupakan salah satu penggambaran yang dihadirkan oleh penulis demi memulainya suatu perkenalan konflik. Lalu konflik dimulai dengan: “”Tiba-tiba aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ado Sidji telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjanakan Kakek? Aku ingin tahu.” Karena wataknya yang terbilang bersifat anti-held atau selalu melawan akan suatu peristiwa sehingga menimbulkan konflik maka tokoh Ajo Sidi dapat diklasifikasikan sebagai tokoh antagonis. Posisinya dalam penokohan cerpen ini adalah sebagai bijpersoon atau tokoh bawahan. Karena tokoh ini mampu memunculkan konflik yang memicu penggambaran karakter tokoh utama. . Tokoh Ajo Sidi juga merupakan tokoh pipih (flat) karena dia tidak mengalami perkembangan psikologis maupun kondisi emosional selama berlangsungnya cerita. d. Haji Saleh Tokoh yang hadir dari penciptaan Ajo Sidi ini dihadirkan sebagai penggambaran Kakek oleh Ajo Sidi. Tokoh ini termasuh tokoh bawahan karena fungsinya adalah untuk membantu kehadiran konflik yang dirasakan oleh tokoh utama. Dia juga merupakan tokoh bulat karena dia mengalami perubahan kondisi psikologis dan emosional. Bisa dibuktikan dari kutipan berikut: “Alangkah tercengangnya Haji Saleh karena di nerakan itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan dia tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang-orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri.” Karakter Haji Saleh juga merupakan sosok yang angkuh, terbukti dari kutipan: “Aku Saleh, tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku. 2. Latar a. Latar Tempat Dalam cerpen ini kita dapat menemukan latar tempat yang ada dalam cerpen ini yang sudah jelas dikatakan oleh pengarangnya, seperti perkampungan, surau, dekat pasar. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan cerpen berikut: “Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tan di jalan kampungku. Pada simpang kecil kekanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.” (Paragraf pertama). Latar tempat lainnya misalnya tergambar dari kutipan brikut: “Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat.” Latar berikutnya yang dapat ditemukan dalam cerita adalah rumah Ajo Sidi. Hal ini dapat dibuktikan dari kutipan berikut: “Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa sama istinya saja. Lalu aku tanya dia.” b. Latar Waktu Latar waktu dalam cerita ini dapat ditemukan di kalimat pertama dalam cerpen tersebut: “Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan behenti di dekat pasar.” Beberapa tahun yang lalu merupakan latar waktu meskipun tidak dengan jelas disebutkan tahun yang pasti dari peristiwa tersebut. Selain itu dapat juga ditemukan dalam kutipan cerpen berikut: “Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai surau pada malam hari.” “Pada suatu waktu,” kata Ajo Sidi memulai, “..di Akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang.” Meskipun kata ‘pada suatu waktu’ tidak menyebutkan dengan jelas kapan peristiwa itu terjadi namun itu bisa menjadi salah satu acuan dari kalimat tersebut yang memberikan latar waktu. c. Latar Sosial Di dalam cerpen ini latar sosial digambarkan sebagai berikut : “Dan di pelataran surau kiri itu akan tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun Ia sebagai Garim, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya kakek.” Dari contoh ini tampak latar sosial berdasarkan kebiasaan atau cara hidupnya. Perhatikan pada berikut ini. Haji soleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah, Ia memulai pidatonya: “O, Tuhan kami yang Mahabesar, kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya”. Akhirnya ada latar sosial lain yang digambarkan dalam cerpen ini meskipun hanya sepintas saja gambaranya itu. Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu tokoh dalam cerita ini termasuk kedalam kelompok sosial pekerja. Datanya seperti ini. “Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab, “dan sekarang ke mana dia ?” “Kerja” “Kerja?,” tanyaku mengulangi hampa. “Ya. Dia pergi kerja.” 3. Alur Dalam cerita ini si pengarang menggunakan alur mundur, hal ini diperkuat dengan cuplikan yang mengatakan bahwa. “kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke Kota kelahiranku dengan menggunakan bus. Tuan temui sebuah surau tua dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana.” Si pengarang menceritakan kisah seorang penjaga surau (kakek) mengapa saat ini si Kakek telah tiada seperti yang tertera pada cuplikan/penggalan cerita di atas dan si pengarang menceritakan tentang si kakek selama masa hidupnya.“Sekali sehari aku datang pula . mengupah kepada kakek. Biasanya kakek gembira menemaniku karena aku suka memberinya uang tapi sekali ini kakek begitu muram” Yang menjadikan klimaks dalam cerita ini yaitu ketika si kakek merasa sakit hati atas perkataan Ajo sidi yang kurang lebih intinya menyatakan bahwa percuma dan sia-sia kalau hidup, meskipun selama hidupnya ia bersujud, beribadah, taat bersembahyang akan tetapi melupakan kehidupannya sendiri (terlalu egois). Hal ini dibayangkan terhadap seperti tokoh Haji Saleh yang kurang lebih sama seperti kehidupan si kakek, sehingga membuat si kakek merasa kesal dan merenung akan perbuatannya (termenung sedih) seperti cuplikan diatas yang mana si kakek dahulu merasa senang apabila tokoh “aku” datang menghampirinya akan tetapi pada saat itu si kakek merasa sedang sedih. “ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan jadi memuncak tapi kakek diam saja kau kenal padaku bukan?sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua,bukan?Terkutukkah perbuatanku?dikutuki Tuhankah perbuatanku?” Hingga akhirnya si kakek bunuh diri (meninggal) seperti yang tertera dalam cuplikan kalimat berikut. “ya, tadi subuh kakek kedapatan mati di suraunya yang mengerikan sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur”. Dalam Bahasa Belanda cerpen ini juga disebut cerpen dengan alur ‘Raam Vertelling’ yaitu cerita berframe. Karena di dalam cerpen tersebut terjadi pergantian tokoh pencerita dari tokoh aku ke tokoh Ajo Sidi kemudian Haji Saleh.

Sabtu, 08 Februari 2014

Resensi


Judul Resensi              :Coklat
Keunggulan                 :Dalam novel ini bahasanya mudah dipahami, sehingga cepat     dimengerti oleh para pembacanya.
Kelemahan                  :Dalam novel ini banyak sekali bahasa-bahasa alay yang  sebagian besar digunakan dalam pergaulan masa ini, oleh para pelajar sekarang.

Identitas Buku

Pengarang                  : Nikensari S.
Judul Novel                : Coklat
Tebal Halaman          : 215
Penerbit                      : Klik Publishing
Jl. Kaliurang Km. 9.2 Yogyakarta

Sinopsis
EMIRALD NIURA SASTA adalah seorang gadis muda yang sangat biasa. Em, panggilan akrab dari emirald sangat menyukai  coklat entah itu makanan dari coklat, warna coklat , dan semua hal yang berbau coklat. Coklat selalu ia gambarkan sebagai suatu bentuk kehangatan yang sangat ia gemari terutama kehangatan keluarga. Maka dari itu ia menyebut kehangatan dan kasih sayang didalam keluarganya dengan sebutan coklat. Tapi coklat Em hilang ketika papa dan mama Em bertengkar hebat  dan sudah tidak harmonis lagi seperti dulu. Pernikahan mereka berada diujung tanduk. Sementara itu Em tidak pernah lagi merasakan apa itu coklat yang dulu sangat ia gemari didalam keluarganya. Semuanya berubah menjadi putih yang dingin dan tidak berwarna.
Lama kelamaan Em tidak betah juga berada dalam posisi ini, yang seharusnya seusianya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari keluarganya tapi ia malah tidak mendapatkan itu dari papa dan mamanya yang makin sibuk dan tidak memperdulikan Em bahkan diri mereka sendiri. Mereka terlena akan pekerjaan dan jabatan mereka di perusahaan. Hingga akhirnya Em memutuskan untuk pindah ke jogja ikut eyangnya.


Di jogja Em tinggal bersama eyang putrinya yang tidak lain tidak bukan adalah ibu dari papa Em. Em kaget saat mengetahui tidak hanya dia yang tinggal dirumah eyang, ada satu orang lagi, laki-laki yang bernama Zuba. Ia adalah sepupuhnya yang berasal dari Bandung. Selama di jogja Em akan bersekolah di SMA harapan Jaya yang ternyata juga menjadi sekolah dari Zuba. Jadi setiap hari Zuba dan Em selalu berangkat bersama menuju sekolah.
Em sangat menyukai Zuba yang ia panggil denga sebutan Mas Zuba karena dari dulu Em selalu mengidam-idamkan kakak laki-laki yang perhatian juga peduli padanya. Dan akhirnya dia mendapatkan juga walaupun bukan kakak kandung. Namun ia sudah lebuh dari cukupuntuk Em.
Baru satu hari saja dirumah Eyang. Em sudah mendapat kecelakaan yang membuat kepalanya harus diperban padahal esok paginya ia harus berangkat sekolah untuk pertama kalinya. Awalnya ia merasa tidak terima terhadap orang yang menabraknya di trotoar saat tengah bersepeda dan kebetulan sedang kesasar. Tapi setelah melihat ketulusan orang yang menabraknya dengan membawanya ke klinik akhirnya membuat Em luluh juga, ditambah wajah rupawan orang itu. Diam – diam ia menyukai orang itu dan ia berharap bisa bertemu lagi dengannya yang bernama Immo.
Em sangat bahagia karena mendapatkan orang seperti Immo yang tampan dan jenius. Immo menonjol dalam segala bidang termasuk melukis , bidang yang paling tidak dia kuasai oleh Em. Immo selalu senang hati membantu Em dalam urusan yang satu itu. Mmo sendiri juga orang yang sanga menyenangkan dan itu salah satu hal yang membuatnya semakin tergila – ila pada Immo. Immo bisa menerima Em apa adanya meski dengan latar belakang keluarga Em yang buruk. Immo tulus mencintai Em.
Sayang semuanya memburuk ketika mama tiba-tiba datang dari jakarta. Em langsung sadar apa alasan mamanya datang ke Jogja, yaitu untuk mencari tahu tentang Immo atau yang lebih parah mamahnya ingin memisahkan Em dari Immo. Dan semuanya terbukti. Mama Em ingin memisahkan Em dari Immo dengan alasan ingin membawa Em ke Jakarta.
Kekuatan cinta Immo dan Em benar – benar diuji. Em dan mmo berusaha sekuat tenaga mereka untuk tetap menjaga cinta mereka yang besar. Hanya saja sekarang Em lah yang tidak berdaya karena dengan tega mamah nya memberikan dua pilihan yang sangat berat untuknya, antara memilih Immo dan tetap tinggal di Jogja dengan konsekuensi mamahnya akan menceraikan papanya atau ia ikut pulang ke Jakarta dan mamah akan berusaha untuk mempebaiki hubungan dengan papahnya. Sebagai anak ia pasti lebih mementingkan ke utuhan keluarganya sehingga dengan bera hati ia memilih untuk kembali ke Jakarta dengan mengorbankan cintanya pada Imoo dengan hati yang tersayat-sayat.
Saat di Jogja Em pergi ke sekolah lamanya yang kebetulan bertepatan dengan tanggal 16 juli, tanggal jadian dengan Immo. Em ingin sekali mengenang kembali Immo , membuka memori – memori indah bersama orang yang sampai sekarang masih sangat dicintainya.Dewi fortuna benar – benar berpihak pada Em , tanpa di duga ia bertemu lagi dengan Immosetelah sekian tahun tidak bertemu. Mereka menumpahkan kerinduan yang tak terbendung yang selama ini terpendam.
Mama Em mengizinkan Em berhubungan lagi dengan Immo, dan itu membuat Em sangat bahagia tanpa pikir panjang ia segera menemui Immo yang sudah menunggunya disekolah. Ia bilang bahwa ia menerima Immo lagi masuk dalam kehidupannya karena kedua orang tuanya sudah memberikan izin dan karena Em mencintai Immo dengan teramat sangat, Em tidak mau menyia-nyiakan Immo lagi.
Coklat Em akhirnya sekarang sempurna setelah penantian yang panjang. Keluarganya kembali harmonis dan terlebih lagi ia mendapatkan coklatnya yang tak sempurna kembali yaitu Immo. Hidupnya sangat lengkap sekarang karena kehangatan dari mereka yang sangat ia cintai. Keluarganya dan Immo telah menjadi kesatuan yang hangat dan menyenangkan yaitu Coklat. Coklat Papa, Mama, Em dan Immo.    

Selasa, 04 Februari 2014

Pengertian Pendekatan Sastra

1.    Paradigma penelitian sastra
Secara etimologis paradigma berasal dari bahasa latin (paradigma), berarti contoh, model, pola. Prinsip-prinsip paradigma dikembangkan oleh Thomas Kuhn dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution,terbit pertamakali tahun 1962. Menurut Ritzer (1980: 1-24), paradigma yaitu konsep-konsep dasar Kuhn itu sendiri, dibicarakan secara luas dalam berbagai ilmu pengetahuan sejak tahun 1970-an, dengan sendirinya dengan pokok permasalahan yang berbeda beda, sesuai dengan disiplin yang bersangkutan. Pada dasarnya ilmu pengetahuan bersifat netral. Ilmuan mengadakan penelitian , yang kemudian disertai dengan penemuan-penemuan, tujuannya adalah untuk kesejahteraan umat manusia.
Sebagai peneliti ataupun ilmuwan, paradigma merupakan hal yang paling mendasar dalam menentukan jenis dan bentuk eksperimen yang akan dilakukan . Tanpa paradigma, peneliti tidak dapat mengumpulkan data. Dengan kata lain tanpa paradigma data-data menjadi relevan. Pada dasarnya ilmu pengetahuan bersifat netral. Ilmuwan mengadakan penelitian, yang kemudian disertai dengan penemuan-penemuan, tujuannya adalah untuk kesejahteraan umat manusia. Paradigma keilmuwan tidak pernah mengarahkan ilmu pengetahuan untuk memusnahkan peradaban dan kebudayaan manusia. Dan manusia yang memiliki kepentingan tertentulah yang menyebabkan hal-hal yang bersipat negatif tersebut terjadi. Yang pada akhirnya ilmu menjadi suatu kepentingan semata untuk sebagian kelompok, dan bukan untuk kepentingan umat manusia secara umum.
2.    a) Pendekatan Mimetik
Pendekatan mimetik adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajianya terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra (Abrams, 1981: 189).
Sastra sebagai dokumen sosial. Kenyataan manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah kenyataan yang telah ditafsirkan sebelumnya dan yang dialaminya secara subjektif sebagai dunia yang bermakna dan kohern. Hubungan antara seni dan kenyataan merupakan interaksi yang kompleks dan tak langsung, yang ditentukan oleh konvensi bahasa, konvensi sosio-budaya, dan konvensi sastra. (Teew, 1984: 224-229).
    b) Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif merupakan suatu pendekatan yang hanya menyelidiki karya sastra itu sendiri tanpa menghubungkan dengan hal-hal di luar karya sastra.
Menurut Goldmann studi karya sastra harus dimulai dengan analisis struktur, diantaranya menganalisis struktur kemaknaan yang dapat mewakili pandangan dunia penulis, tidak sebagai individu, tetapi sebagai struktur mental transindividu dari sebuah kelompok sosial atau wakil golongan masyarakatnya. Atas dasar pandangan dunia penulis, peneliti karya sastra dapat membandingkan dengan data-data dan anlisis keadaan sosisal masyarakat bersangkutan.
   c) Pendekatan Sosiologis
Menurut Ratna (1984:61) dasar pendekatan sosiologis adalah adanya hubungan hakiki antara karya sastra dengan masyarakat. Hubungan-hubungan yang dimaksud disebabkan oleh: Karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang, Pengarang itu sendiri adalah masyarakat, Pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat,  Hasil karya sastra itu dimanfaatkan oleh masyarakat. Sosiologis adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama,cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia. Dalam hal itu tugas sosiologi sastra adalah menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayal dan situasi ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal usulnya. Tema dan gaya yang ada dalam karya sastra yang bersifat pribadi itu harus diubah menjadi hal-hal yang bersifat sosial.
   d) Pendekatan Feminisme
Pendekatan yang mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam memandang eksistensi perempuan . Lahirnya pendekatan feminisme tidak bisa dilepaskan dari gerakan feminisme di Amerika yang berkembang tahun 1700-an. Feminisme merupakan gerakan yang menyuarakan ketidakadilan dan ketidaksetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. Teori feminis dimaksudkan untuk memahami ketidaksetaraan dan difokuskan pada politik gender, hubungan kekuasaan, dan seksualitas.
   e) Pendekatan Psikologis
Menurut Harjana (1991: 60) pendekatan psikologi sastra dapat diartikan sebagai suatu cara analisis berdasarkan sudut pandang psikologi dan bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa kehidupan manusia yang merupakan pancaran dalam menghayati dan mensikapi kehidupan. Disini fungsi psikologi itu sendiri adalah melakukan penjelajahan kedalam batin jiwa yang dilakukan terhadap tokoh-tokoh yang terdapat dalam karya sastra dan untuk mengetahui lebih jauh tentang seluk-beluk tindakan manusia dan responnya terhadap tindakan lainnya.

3.    a) Sinopsis
Cerpen “Peradilan Rakyat” Karya Putu Wijaya
Pada suatu hari ada seorang pengacara muda yang hendak mengunjungi ayahnya yang kini menjai seorang pengacara tua. Ia menemui ayahnya sebagai pengacara bukan sebagai putranya untuk menanyakan pendapat pengacara tua itu  mengenai keputusan yang diambil oleh pengacara muda.
Saat pengacara muda suah bertemu dengan ayahnya, ia segera memberitahu ayahnya bahwa ia ingin berbicara dengan ayahnya sebagai sepasang pengacara yang profesional. Ayahnya memaklumi dan menanggapi keinginan putranya itu. Pengacara muda mengatakan ia telah didatangi oleh seorang penjahat besar di negaranya dan penjahat itu ingin ia menjadi pembelanya pada saat pengadilan nanti. Ia hanya ingin menjadi pengacara profesional, karena pengacara pun tetap harus membela yang salah walau sebenarnya hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Pengacara tua pun tahu bahwa pengacara muda itu akan menerima tawaran dari penjahat itu untuk membelanya, karena ia tahu betul sifat pengacara muda itu. Tetapi ia ingin tahu apakah sebab pengacara muda itu menerima tawaran sang penjahat. Pengacara tua pun bertanya kepada pengacara muda apakah ia menerima karena takut atau disogok engan jumlah uang yang besar. Tetapi jawaban pengacara muda tetap tidak dan ia hanya ingin bersikap profesional sebagai seorang pengacara.
Pengacara tua masih tetap heran mengapa pencara muda menerima tawaran itu, ia bertanya lagi apakah pengacara muda diancam oleh penjahat itu. Pengacara muda menjawab tidak. Dan pada akhirnya ia mengerti. Pengacara tua memberitahu pengacara muda bahwa hal tersebut akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri, tetapi pengacara muda hanya ingin bertindak profesional dan hanya ingin membela penjahat itu.
Pengacara tua yakin di saat pengadilan nanti pengacara muda akan memenangkannya. Tetapi pengacara muda membantahnya karena ia belum melakukan pengadilan tersebut. Pada akhirnya pengacara tua merasa lelah dan rindu kepada putranya sehingga ia mengatakan kepada pengacara mua itu agar segera pulang menemui ayahnya. Walaupun pengacara muda menolak tetapi pengacara tua memaksanya karena ia sangat rindu dengan putranya. Pengacara muda pun pergi meninggalkan pengacara tua yang terlelap.
Hari pengadilan itu pun dimulai dan ternyata dugaan pengacara tua itu benar. Penjahat besar itu memenangkan pengadilannya karena pembelaan pengacara muda. Penjahat itu berpesat dan merasa merdeka Karen aia terbebas dari tindakan hukum negara. Rakyat pun membabi buta, mereka menyerang tempat pengadilan itu dan membakarnya. Pengacara muda itu diculik dan dibawa pulang setelah disiksa dan suah menjai mayat.
Pengacara tua duduk sedih saat mendengar berita yang diabacakan oleh sekretarisnya itu. Ia sangat sedih karena pengacara muda yang sebenarnya adalah putranya tiak menengar dan memahami bahwa ia sangat rindu pada ayahnya dan tidak ingin menengar nasehat ayahnya saat ia mengambil keputusan itu. Pengacara tua sangat sedih.
b) Pendekatan Mimetik
Cerpen Peradilan Rakyat karya Putu Wijaya adalah cerpen yang berani menceritakan betapa ironisnya peradilan yang ada di negeri ini. Yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini adalah seorang pengacara muda yang cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara. Dia mempunyai ayah yang juga seorang pengacara yang disegani pada masanya. Permasalahan muncul ketika seorang oknum pejabat yang banyak melakukan pelanggaran hukum meminta bantuannya untuk menjadi pengacaranya. Dalam hal itu dia menghadapi gejolak antara mau membantunya atau tidak.
Secara pribadi dia tidak ingin menjadi pengacaranya tetapi secara profesional dia tidak bisa menolak klien yang meminta bantuannya sebagai pembela di pengadilan. Akhirnya dia meminta pendapat kepada ayahnya sebagai seorang pengacara bukan sebagai anak. Tetapi kasus itulah yang akhirnya membawanya dalam kehancuran. Dari sini Putu Wijaya menggambarkan keindahan serta realitas bagaimana seorang pengacara muda yang sangat cerdas tetapi minim pengalaman hidup dijatuhkan oleh sebuah kasus yang merupakan sandiwara pengadilan belaka ynag sarat akan unsur – unsur politik. Putu wijaya dalam cerpen ini juga mengkritik soal banyaknya mafia – mafia kasus (markus) yang telah membudadaya dalam negeri ini. Keadaan Negara yang sedang carut maruk membuat para pelaku mafia kasus bisa menghindari jeratan hukum apabila mereka bisa menyewa pengacara terkenal dan menyuap aparat negara.
Kutipan diatas merupakan wujud ekspreasi jiwa mengenai kedudukan posisi bangsa dan negara saat ini bisa berubah.“Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.“Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya.”
Penulis mampu menekspresikan diri seorang pengacara muda, yang profesional, dan cerdas.“Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel – yel dan poster – poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru.
Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.”Penulis mampu mengkritisi pemerintahan, dan memaparkan pandangannya pada pemerintahan. Wujud dari ekpresi terhadap situasi dan keadaan yang terjadi di masyarakat, hal ini pula didasari oleh profesi yang penah menjadi wartawaan di berbagai media cetak. Misalnya penulis pernah menjadi wartawan majalah Ekspres (1969), wartawan majalah Tempo (1971-1979) dan Redaktur Pelaksana majalah Zaman (1979-1985). Bagaimana pada saat ini keadilan adalah bagi orang – orang yang mempunyai uang banyak dan kekuasaan lebih.
c) Simpulan
Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah, dalam mengambil pilihan hidup itu kita seharusnya sebagai manusia, harus menggunakan pikiran serta perasaan. Sehingga pilihan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Banyaknya mafia – mafia kasus yang terjadi saat ini adalah bukti kebrobrokan moral yang terjadi di Negara ini, yang dimana hokum bisa dibeli di negeri ini. Kita yang sebagai manusia mempunyai akhlak hendaknya dalam menjalani sebuah pekerjaan haruslah sesuai dengan norma – norma yang berlaku, sehingga hal – hal yang merugikan orang lain apalagi menyengsarakan orang lain tersebut bisa di hindari. Bukan tidak mungkin bila rakyat telah marah, mereka akan lupa diri dan bisa melakukan hal – hal yang di luar batas kewajaran.