Rabu, 12 Februari 2014

Resensi cerpen

Sinopsis Cerpen Robohnya Surau Kami Oleh: Ali Akbar Navis
 Dalam cerpen ini menceritakan tentang seorang kakek yang menjadi sebagai garin, penjaga surau (takmir). Menjadi seorang penjaga surau dia tidak mendapatkan honor atau gaji apapun. Dia hidup mengandalkan dari sedekah, yang hanya sekali pada hari Jumat. Pekerjaan sambilannya yaitu menjadi pengasah pisau dan gunting. Apabila yang meminta tolong perempuan biasanya dia diberi sambal. Berbeda lagi, apabila yang meminta tolong itu laki-laki, ia diberikan rokok kadang juga uang sebagai imbalannya. Tidak sedikit juga yang hanya memberikan ucapan terima kasih dan senyuman. Suatu ketika, kakek terlihat murung, sedih, kesal dan bermuram durja. Ia duduk termenung di serambil surau dengan ditemani beberapa peralatan asahan dan pisau cukur tua berada disekitar kaki kakek. Ternyata ia baru saja bertemu dan berbicara dengan Ajo Sidi, si pembual atau ahli pembuat cerita. Cerita-ceritanya aneh, unik, yang membuat cerita dengan menganalogikan lawan bicara dengan sesuatu. Hari itu kakek yang dijadikan bualan ceritanya, yang pada intinya menjadi pameo atau semacam cerita yang menyindir pendengar. Ajo Sidi, si pembual itu menceritakan seseorang bernama Haji Shaleh, yang dulunya didunia selalu beribadah kepadaNya, taat menjalankan perintahNya dan selalu takwa kepadaNya. Namun, di akhirat Haji Shaleh, malah dimasukkan ke dalam neraka, bahkan ditempatkan pada keraknya neraka. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya, dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri. Segala kehidupannya lahir batin diserahkan kepadaNya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain. Bahkan dia tak pernah membunuh seekor lalat pun. Padahal dia hidup berkaum, bersaudara namun sedikitpun tak memperdulikannya. Dia selalu bersujud, memuji dan berdoa kepadaNya. Setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi, kakek hanya merenung dan memikirkannya Seolah ia merasakan apa yang dirasakan Haji Shaleh. Keesokan harinya, kakek mengakhiri hidupnya dengan menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur. Berita kematian kakek sudah tersebar ke seluruh kampung, semua warga kampung mengurus jenazah kakek. Semua warga mengantar kepergian jenazah kakek ke makam. Namun Ajo Sidi yang bisa dikatakan menjadi penyebab kematian kakek, malah tetap pergi bekerja. Dan sebelum pergi bekerja, Ajo Sidi berpesan kepada istrinya agar membelikan kain kafan untuk mengafani jenazah kakek. 1. Penokohan Tokoh yang muncul dalam cerpen ini ada tiga yakni: a. Tokoh Aku Tokoh ini sangat berperan dalam cerita pendek ini karena ‘tokoh aku’ berperan sebagai pencerita. Dengan penggunaan kata ‘aku’ sebagai orang pertama, tokoh ini berhasil membawa jalannya cerita dengan pandangan dan pemikiran si ‘tokoh aku’ tersebut. Dapat dibuktikan dari kutipan berikut: “Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi tidak membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itukah yang mendurjakan kakek ? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya pada kakek lagi: “Apa ceritanya, kek ?” Salah satu kutipan di atas merupakan contoh bahwa tokoh aku berperan besar dalam mengalirnya cerita dari tokoh-tokoh yang lain. Tokoh ini merupakan tokoh yang protagonis karena dia tidak menentang peristiwa apapun dan tidak menghadirkan konflik. Namun dia termasuk tokoh bulat karena terjadi perubahan psikologis dan emosional. Dibuktikan dengan: “Ya , tadi subuh Kakek kedpatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur.” “Astaga Ajo sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.”” Pernyataan yang ditulis tebal di atas merupakan salah satu ekspresi perkataan yang menggambarkan rasa kaget dan terjadi perubahan emosional dalam diri tokoh ini.” b. Kakek Tokoh kakek yang merupakan tokoh utama dalam cerpen ini digambarkan sebagai orang yang lemah imannya dan mudah tersinggung serta tidak tahan dengan perkataan negatif orang lain terhadapnya. Bisa dibuktikan karena dalam cerita ini dia dengan mudah dapat termakan oleh cerita Ajo Sidi dan malah tidak mempercayai keyakinan yang sudah dia tanamkan dalam dirinya sendiri. Seharusnya dengan komentar orang terhadap dirinya dia bisa menintrospeksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya. Kakek merupakan tokoh bulat karena terjadi banyak pergejolakan emosional dalam dirinya. Kutipan yang menggambarkan bahwa dia mementingkan dirinya sendiri: “Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak terpikirkan hidupku sendiri.” Kakek juga pribadi yang mudah meledak-ledak emosinya dan mudah depresi. Dapat dibuktikan dari kutipan: “Kemudian aku duduk di sampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek: “Pisau siapa, Kek?: “Ajo Sidi.” .“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam ini, menggorok tenggorokannya.” c. Ajo Sidi Tokoh ini bisa dibilang jarang dimunculkan, namun kehadirannya merupakan kunci dari timbulnya konflik yang terjadi dalam cerpen ini. “Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi pemeo akhirnya. Ada-ada saja orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya,” deskripsi tokoh Ajo Sidi diatas merupakan salah satu penggambaran yang dihadirkan oleh penulis demi memulainya suatu perkenalan konflik. Lalu konflik dimulai dengan: “”Tiba-tiba aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ado Sidji telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjanakan Kakek? Aku ingin tahu.” Karena wataknya yang terbilang bersifat anti-held atau selalu melawan akan suatu peristiwa sehingga menimbulkan konflik maka tokoh Ajo Sidi dapat diklasifikasikan sebagai tokoh antagonis. Posisinya dalam penokohan cerpen ini adalah sebagai bijpersoon atau tokoh bawahan. Karena tokoh ini mampu memunculkan konflik yang memicu penggambaran karakter tokoh utama. . Tokoh Ajo Sidi juga merupakan tokoh pipih (flat) karena dia tidak mengalami perkembangan psikologis maupun kondisi emosional selama berlangsungnya cerita. d. Haji Saleh Tokoh yang hadir dari penciptaan Ajo Sidi ini dihadirkan sebagai penggambaran Kakek oleh Ajo Sidi. Tokoh ini termasuh tokoh bawahan karena fungsinya adalah untuk membantu kehadiran konflik yang dirasakan oleh tokoh utama. Dia juga merupakan tokoh bulat karena dia mengalami perubahan kondisi psikologis dan emosional. Bisa dibuktikan dari kutipan berikut: “Alangkah tercengangnya Haji Saleh karena di nerakan itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan dia tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang-orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri.” Karakter Haji Saleh juga merupakan sosok yang angkuh, terbukti dari kutipan: “Aku Saleh, tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku. 2. Latar a. Latar Tempat Dalam cerpen ini kita dapat menemukan latar tempat yang ada dalam cerpen ini yang sudah jelas dikatakan oleh pengarangnya, seperti perkampungan, surau, dekat pasar. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan cerpen berikut: “Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tan di jalan kampungku. Pada simpang kecil kekanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.” (Paragraf pertama). Latar tempat lainnya misalnya tergambar dari kutipan brikut: “Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat.” Latar berikutnya yang dapat ditemukan dalam cerita adalah rumah Ajo Sidi. Hal ini dapat dibuktikan dari kutipan berikut: “Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa sama istinya saja. Lalu aku tanya dia.” b. Latar Waktu Latar waktu dalam cerita ini dapat ditemukan di kalimat pertama dalam cerpen tersebut: “Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan behenti di dekat pasar.” Beberapa tahun yang lalu merupakan latar waktu meskipun tidak dengan jelas disebutkan tahun yang pasti dari peristiwa tersebut. Selain itu dapat juga ditemukan dalam kutipan cerpen berikut: “Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai surau pada malam hari.” “Pada suatu waktu,” kata Ajo Sidi memulai, “..di Akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang.” Meskipun kata ‘pada suatu waktu’ tidak menyebutkan dengan jelas kapan peristiwa itu terjadi namun itu bisa menjadi salah satu acuan dari kalimat tersebut yang memberikan latar waktu. c. Latar Sosial Di dalam cerpen ini latar sosial digambarkan sebagai berikut : “Dan di pelataran surau kiri itu akan tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun Ia sebagai Garim, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya kakek.” Dari contoh ini tampak latar sosial berdasarkan kebiasaan atau cara hidupnya. Perhatikan pada berikut ini. Haji soleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah, Ia memulai pidatonya: “O, Tuhan kami yang Mahabesar, kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya”. Akhirnya ada latar sosial lain yang digambarkan dalam cerpen ini meskipun hanya sepintas saja gambaranya itu. Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu tokoh dalam cerita ini termasuk kedalam kelompok sosial pekerja. Datanya seperti ini. “Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab, “dan sekarang ke mana dia ?” “Kerja” “Kerja?,” tanyaku mengulangi hampa. “Ya. Dia pergi kerja.” 3. Alur Dalam cerita ini si pengarang menggunakan alur mundur, hal ini diperkuat dengan cuplikan yang mengatakan bahwa. “kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke Kota kelahiranku dengan menggunakan bus. Tuan temui sebuah surau tua dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana.” Si pengarang menceritakan kisah seorang penjaga surau (kakek) mengapa saat ini si Kakek telah tiada seperti yang tertera pada cuplikan/penggalan cerita di atas dan si pengarang menceritakan tentang si kakek selama masa hidupnya.“Sekali sehari aku datang pula . mengupah kepada kakek. Biasanya kakek gembira menemaniku karena aku suka memberinya uang tapi sekali ini kakek begitu muram” Yang menjadikan klimaks dalam cerita ini yaitu ketika si kakek merasa sakit hati atas perkataan Ajo sidi yang kurang lebih intinya menyatakan bahwa percuma dan sia-sia kalau hidup, meskipun selama hidupnya ia bersujud, beribadah, taat bersembahyang akan tetapi melupakan kehidupannya sendiri (terlalu egois). Hal ini dibayangkan terhadap seperti tokoh Haji Saleh yang kurang lebih sama seperti kehidupan si kakek, sehingga membuat si kakek merasa kesal dan merenung akan perbuatannya (termenung sedih) seperti cuplikan diatas yang mana si kakek dahulu merasa senang apabila tokoh “aku” datang menghampirinya akan tetapi pada saat itu si kakek merasa sedang sedih. “ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan jadi memuncak tapi kakek diam saja kau kenal padaku bukan?sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua,bukan?Terkutukkah perbuatanku?dikutuki Tuhankah perbuatanku?” Hingga akhirnya si kakek bunuh diri (meninggal) seperti yang tertera dalam cuplikan kalimat berikut. “ya, tadi subuh kakek kedapatan mati di suraunya yang mengerikan sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur”. Dalam Bahasa Belanda cerpen ini juga disebut cerpen dengan alur ‘Raam Vertelling’ yaitu cerita berframe. Karena di dalam cerpen tersebut terjadi pergantian tokoh pencerita dari tokoh aku ke tokoh Ajo Sidi kemudian Haji Saleh.

1 komentar:

  1. assalamualaikum wr.wb,saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada NYI SUGENG atas bantuan NYI.
    kini impian saya selama ini sudah jadi kenyataan dan berkat bantuan NYI SUGENG pula yang telah memberikan
    angka ritual kepada saya yaitu 4 angka dan alhamdulillah langsung tembus. sekali lagi makasih ya NYI karna
    waktu itu saya cuma bermodalkan uang 700 ribu dan akhirnya saya menang. Berkat angka GAIB hasil ritual NYI SUGENG
    saya sudah bisa buka usaha yaitu BENKEL MOTOR/MOBIL dan TOKO SEMBAKO kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari
    sebelumnya,bagi anda yg ingin seperti saya silahkan HUB NYI SUGENG di 085 256 212 007
    ramalan NYI memang ramalan (GAIB) yang dijamin tembus.

    BalasHapus